Berpijak Pada Akal Sehat
Penulis : Veronica Purwaningasih, peserta training “Penyusunan Lograme”
Seluruh ingatan keterlibatanku dalam belajar bersama, berproses dengan berbagai komunitas tergali dalam waktu tiga hari. Tiga hari itu mengantarku kembali pada Januri 1998, titik dimana aku mulai mengenal institusi yang mengabdi dan membela kepentingan rakyat yang dilupakan. Bentangan waktu dalam rentang lebih dari satu dasawarsa ini, ternyata dapat dipotret melalui Pelatihan Penyusunan Logframe dengan Pendekatan Berbasis Hasil/Dampak yang saya ikuti, dan gambarannya dapat diringkas dalam matrik-matrik logframe. Beberapa lembaga telah saya libati, dan semua menerapkan alur yang tidak sungguh-sungguh berbeda.
Melalui kesempatan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Circle Indonesia, dari tanggal 3 – 5 November 2011 ini, saya menemukan apa yang mendasari mengapa Logical Framework Analysis banyak diterapkan diberbagai lembaga.
LFA memang bukan barang yang baru bagi sebagian banyak orang.Tetapi bagaimana sejarahnya dan apa pentingnya, mungkin tidak semua yang mengenal bahkan menggunakan LFA. Mengetahui manfaatnya, ternyata tidak selalu diiringi dengan pemahaman apa pentingnya.
Dalam proses pelatihan inilah, saya menemukan alasan mendasar mengapa harus ada targetan-targetan dalam suatu kegiatan. Niat baik tidaklah cukup. Dia tidak boleh berhenti pada tindakan yang baik, tetapi bahkan harus dimulai dari pemahaman yang baik atas apa yang akan dilakukan. Merencanakannya dengan baik, sehingga langkah-langkah yang tepat dapat dirumuskan agar mengarah pada target yang ditetapkan. Selain memberi dasar, LFA juga dapat menjadi rambu-rambu dan pagar, agar project tidak lari dari tujuan semula.
Di mulai pada hari pertama dengan materi pengenalan dan penyegaran kembali mengenai sejarah dan istilah, peserta, terutama saya mendapatkan pemahaman pentingnya hasil dijadikan titik awal bergeraknya kegiatan. Dengan bertumpu pada hasil, maka ketika menentukan kegiatannya tidak lagi meraba-raba. Ini juga menghindari adanya project yang isinya banyak kegiatan, tanpa hasil yang jelas.
Di hari kedua, peserta diajak menganalisa suatu kondisi untuk kemudian menentukan apa yang menjadi akar persoalannya dan akibat yang ditimbulkannya. Melalui proses ini, saya menyadari bahwa dalam merumuskan persoalan mendasar butuh informasi dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak dengan berbagai pengalaman. Sulit membuatnya sekali jadi. Perumusan, pengendapan dan pemikiran ulang, tidak tabu untuk dilakukan. Hal ini untuk menghindari adanya lompatan logika dan alur yang sebenarnya tidak terhubung.
Belajar bersama mengalir hingga hari ketiga, dimana pada hari terakhir peserta dibawa pada praktek menyusun logframe. Menerapkan hasil pembelajaran dua hari sebelumnya. Menetapkan outcome dan output dan juga kegiatan, dalam suatu project. Apa yang dilakukan sebenarnya tidaklah sulit. Tetapi karena tidak semua mengenal lokasi yang dijadikan contoh dimana project akan dijalankan, diskusi panjang tidak terelakkan. Disini sangat terasa, bahwa menerapkan logika sederhana menjadi tidak mudah ketika kita tidak memahami konteks dan kondisinya. Informasi sebanyak-banyaknya dari lokasi project, kondisi terkini yang dialami dimana dibutuhkan intervensi, menjadi inti dan kunci keberhasilan. Karena dari situlah perencanaan matang dapat disajikan.
Proses selama tiga hari pelatihan sungguh mencerahkan. Fasilitator sungguh memampukan para peserta untuk saling menggali dan berbagi. Menjadi guru satu sama lain, tanpa ada yang merasa digurui. Semua teryakinkan bahwa yang diperlukan hanya langkah sederhana. Berpijak dari kondisi yang ada, ditetapkan perubahan apa yang diinginkan, yang dapat dicapai dengan kegiatan-kegiatan pendukung.
Dan alat untuk mengeceknya hanya diperlu diterapkan prinsip yang sederhana; sebab – akibat, karena/jika – maka. Hanya itu saja. Disinilah letak pentingnya penalaran yang tidak mengingkari akal sehat dibutuhkan. Jika logika sederhana itu dinafikan, dapat dipastikan project akan mengalami kesesatan yang bisa bersifat permanen.
Dengan apa yang telah saya lalui selama tiga hari pelatihan ini saya bagaikan mendapat peta dan kunci jawaban dari banyak pertanyaan. Peta yang memberi infomasi dititik mana saya berdiri, dan arah mana yang ingin saya tuju dengan melalui jalur mana yang harus saya pilih. Tetapi juga sekaligus memegang kunci yang dapat membuka dan mengungkap persoalan yang kemungkinan ada. Dititik mana persoalan itu terjadi. Dengan peta dan kunci, tentu akan memberi keyakinan bagi saya, bahwa saya tidak akan sesat dan dapat masuk ke segala tempat. Dalam hal ini, dimasukkan dalam project apapun ketika prinsip yang sudah diajarkan dapat saya jalankan, tidak ada yang perlu saya kuatirkan. Dimana saya terlibat, pijakannya hanyalah pada akal sehat.